Kamis, 29 Mei 2014

One Day One Page, Strategi Pengoptimalan Peran Perpustakaan

Oke Sobat Balngkoners sekalian, kali ini saya akan me-repost artikel tentang perpustakaan. Emang sih gak sering sering saya mbuat artikel, ini pas lagi ikut lomba aja hehehehe... Oke silahkan membaca yaa.. 

Pendahuluan
             
      Membaca adalah salah satu kegiatan meningkatkan pengetahuan dan menambah informasi baru. Orang yang gemar membaca pasti memiliki wawasan yang lebih luas daripada orang yang jarang membaca. Tolak ukur kemajuan suatu bangsa juga dapat dilihat dari seberapa besar minat baca masyarakat bangsa tersebut. Banyak cara-cara yang dilakukan pemerintah dalam usaha meningkatkan minat baca, salah satunya adalah pengadaan perpustakaan. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 43 Tahun 2007 yang intinya menjelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis dan karya cetak guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, informasi, pelestarian dan rekreasi para pengguna perpustakaan.
             Namun dalam kenyatannya, perpustakaan belum dapat menarik minat baca masyarakat. Di berbagai sekolah di Indonesia, pemerintah ataupun pihak sekolah telah membuat perpustakaan dengan bangunan fisik yang besar dan fasilitas yang memadai. Namun seperti bertepuk sebelah tangan, minat siswa untuk menuju kesana masih minim sehingga perpustakaan seringkali sedikit atau bahkan sepi pengunjung. Hal ini tentu menjadi keprihatinan semua pihak. Maka, dengan diadakannya program one day one page akan meningkatkan kebiasaan membaca siswa di sekolah. Permasalahan Sedikitnya siswa yang mengunjungi perpustakaan bisa dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya yatu kurangnya fasilitas yang memadai. Mungkin di suatu sekolah sudah ada perpustakaan yang berkualitas, namun di sekolah lain ada juga yang belum memadai dalam hal infrakstruktur maupun kurang lengkapnya koleksi buku. Namun, terlepas dari itu semua masalah kurangnya pemberdayaan perpustakaan sekolah adalah minat baca dan masih rendahnya kebiasaan membaca siswa.

 Tujuan
              
      Dengan program One Day One Page ini maka siswa akan lebih terpacu dalam kegiatan membaca. Seperti yang diketahui, manusia adalah makhluk kebiasaan. Setiap yang dilakukannya sesungguhnya adalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan itu sendiri. Tujuan dari program ini yaitu memasukkan kebiasaan baru yaitu membaca ke dalam diri siswa. 
          Dengan demikian, minat baca akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan perpustakaan sekolah akan semakin dapat dimaksimalkan dengan baik keberadaannya. 

Pembahasan 
         
     Kebiasaan membaca merupakan sesuatu hal yang kompleks yang harus ditumbuhkan dalam diri masyarakat jika ingin mengoptimalkan pemberdayaan perpustakaan. Tanpa adanya kebiasaan, masyarakat hanya akan menjadi makhluk sekejap alias tidak berkesinambungan. Mungkin satu bulan ini seseorang akan melakukan kegiatan membaca karena adanya kebijakan dari pemerintah tentang penetapan salah satu bulan sebagai bulan gemar membaca. Namun bulan depan belum tentu dia bisa mengulangi hal yang sama. Kebiasaan memang mudah dibuat, akan tetapi juga mudah hilang jika tidak dilakukan secara kontinu. One Day One Page merupakan solusi yang efektif dalam meningkatkan kebiasaan siswa dalam hal membaca. Program ini dilaksanakan dengan cara membaca satu halaman dalam satu hari. Mengapa harus one page atau satu halaman ? Karena lebih baik membaca satu halaman tapi setiap hari sepanjang hidupnya daripada membaca satu buku tapi tidak terus menerus. Kita bisa meneladani tokoh Bill Gates, orang terkaya di dunia. Dia meluangkan waktu hanya satu jam setiap harinya untuk membaca, dan hasilnya bisa kita lihat sekarang. Jika One Day One Page ini dapat berjalan dengan baik. Bukan tidak mungkin utang negara dapat dilunasi beberapa tahun kedepan karena ada ratusan bahkan ribuan Bill Gates baru di Indonesia. 
          Berikut ini saya jelaskan bagaiman teknis dan beberapa hal yang berkaitan dengan One Day One Page beserta pelaksanannya : 
       1. Memilih buku
         Ini hal yang paling mendasar dalam program One Day One Page. Karena tujuan dari diadakannya program ini selain mengoptimalkan pemberdayaan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan para siswa. Biasanya, seorang siswa disuruh membaca buku tanpa mengetahui manfaat dan faedah apa yang dia dapatkan setelah membaca buku tersebut. Itu semestinya menjadi hal yang paling penting dalam pengertian ‘membaca’ buku. Yang oleh sebagian orang justru diremehkan dan dianggap enteng. Maka untuk menghindari itu semua program One Day One Page ini memberi kebebasan bagi seluruh siswa untuk memilih buku apa yang ia sukai. Pihak sekolah dapat memaksimalkan hal ini dengan cara memilih sebagian siswanya untuk ikut serta dalam pembelian buku perpustakaan. 
        Mereka berhak memilih buku yang kira-kira cocok untuk teman-teman mereka dengan persyaratan yang ditentukan pihak sekolah. Karena selera buku yang dimiliki siswa tentu lebih dekat dengan selera teman-teman daripada dengan guru-guru mereka. Dengan demikian buku-buku di perpustakaan tidak hanya menjadi peghias lemari dan tak tersentuh sama sekali. 
    2. Peserta Kegiatan
        Dilaksanakan oleh seluruh civitas akademika sekolah. Mengapa harus semuanya ? Karena siswa akan lebih semangat jika mengetahui gurunya ikut membaca buku diperpustakaan. Adanya peran aktif dari seluruh pihak sekolah juga dapat meningkatkan budaya membaca itu sendiri. Namun guru disini bukan ikut serta, hanya mendampingi siswa. 
   3. Waktu dan Teknis Pelaksanaan 
       One Day One Page dilaksanakan setiap hari kecuali Hari Minggu atau hari libur sekolah. Pihak sekolah dapat menentukan waktunya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya dengan cara meluangkan sedikit waktu pelajaran untuk melaksanakan program ini. Jadi ketika waktu yang telah ditentukan tiba seluruh siswa wajib berada di perpustakaan sekolah, jika tidak memungkinkan dapat dilaksanakan di luar. Adapun teknisnya yaitu setiap siswa dibebaskan untuk memilih satu buku yang ia sukai. Kemudian dia diharuskan membaca satu halaman buku itu setiap harinya. Jika sudah selesai maka berganti dengan buku lainnya. 
  4. Pasca Kegiatan 
     Satu bulan setelah program ini berlangsung, pihak sekolah dapat memberikan apresiasi bagi siswa yang sudah bisa secara kontinyu membaca satu halaman setiap hari. Adapun apresiasi dapat berupa pengumuman di depan para siswa lainnnya ketika upacara berlangsung maupun dapat berupa hadiah bagi yang bersangkutan. 
  5. Sosialisasi 
     Jika sudah memahami program ini dengan baik, yang harus dilakukan agar program ini dapat berjalan dengan baik adalah adanya sosialisasi antara pihak pemerintah dengan sekolah maupun sekolah dengan para siswanya. Pemerintah dapat mengundang seluruh kepala sekolah ataupun perwakilan dinas pendidikan di setiap daerah untuk mengenalkan program ini. Bisa juga dilakukan dengan memasang pamflet-pamflet ataupun selebaran-selebaran yang menarik dan efektif. Untuk pihak sekolah, dapat mengumpulkan semua siswa ketika upacara berlangsung. 
    Setelah semua siswa telah mengetahui tentang One Day One Page maka kebiasaan membaca akan tumbuh sedikit demi sedikit. Perpustakaan pun menjadi optimal dan maksimal keberadaannya. Agar dapat mendapat kemanfaatan yang lebih lagi mungkin dapat diadakan kompetisi yaitu siapapun yang membaca buku paling banyak akan mendapatkan hadiah. Sehingga para siswa akan lebih banyak lagi meluangkan waktunya di perpustakaan sekolah dengan buku yang ia sukai. 
    Perkembangan otak siswa khususnya dalam jenjang Sekolah Dasar (SD) tentu sangat pesat dan juga reseptif (mudah menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Maka dari itu, jika siswa sudah terbiasa membaca buku secara kontinyu sejak kecil maka otomatis akan sulit berhenti dan juga akan menjadi salah satu kebiasaan sepanjang hidupnya. Hal ini tentu bisa bermakna ganda, selain untuk pemberdayaan perpustakaan yang maksimal, juga dapat menghindari siswa dari hal-hal negatif yang dewasa ini sangat marak terjadi dan menjadi keprihatinan bersama. 
     Mengapa bisa terjadi ? Membentuk kebiasaan layaknya ketika menanamkan program dalam komputer. Awalnya, mungkin membutuhkan proses instalasi yang lama dan memakan cukup banyak waktu. Namun ketika proses instalasi tersebut telah berakhir, maka kita hanya tinggal menekan program itu dua kali maka akan langsung membuka dengan sendirinya. Begitu pula dengan kebiasaan. Mungkin saat program One Day One Page ini dikenalkan oleh para siswa. Mereka pasti tidak akan mendukung semua, mungkin ada beberapa siswa yang tidak suka atau memang anti membaca buku. Namun jika program ini tetap secara rutin digulirkan, sedikit demi sedikit para siswa akan menerimanya dan melaksanakan program ini dengan riang gembira. 
      Kebiasaan membaca pun sudah tertancap dalam diri mereka. Satu bulan pertama, mungkin hanya bisa membaca satu halaman lebih sedikit. Dua bulan, menambah dua halaman dan bukan tidak mungkin dalam sehari mereka dapat membaca satu buku setiap harinya. One Day One Book. Jika sudah seperti ini, optimaltidaknya pemberdayaan perpustakaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena perpustakaan tidak lagi menjadi bangunan dingin dengan rak-rak buku yang berjajar rapi, perpustakaan tidak lagi menjadi formalitas yang digunakan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan semata. Akan tetapi perpustakaan menjadi kebutuhan setiap siswa dan dapat berkembang lagi pada tingkat masyarakat yang lebih luas. 
    Siapa yang akan memulai program One Day One Page ini ? Tentu saja Pemerintah beserta seluruh jajarannya. Dukungan dari seluruh pihak sekolah terkait, orangtua siswa juga sangat dibutuhkan. Sekolah juga bisa melakukan program ini secara mandiri. Asalkan ada kemauan dan koordinasi yang baik dari seluruh pihak, pasti akan berhasil. Saya juga sangat berharap program One Day One Page ini dapat mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang membaca. 
     Dan pada akhirnya seseorang petanipun akan terlihat membaca buku di sawah di sela-sela pekerjaannya. Jika sudah demikian, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi mengenai generasi Indonesia di masa yang akan datang.

Artikel Terkait

0   komentar

Posting Komentar

Cancel Reply
Java Blangkon